Bermain lekat dengan kehidupan dan keseharian anak. Dunia anak adalah dunia bermain. Orang dewasa pun seringkali merindukan kembali menjadi anak-anak, karena asyiknya bermain saat menjadi anak-anak.
Bermain adalah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan, baik dengan tujuan maupun tanpa ada tujuan. Dari definisi tersebut, satu syarat mutlak ketika anak melakukan kegiatan yang disebut bermain adalah bahwa aktifitas yang dilakukannya itu menimbulkan efek menyenangkan pada diri anak.
Namun ternyata, perasaan meyenangkan hanyalah salah satu bagian kecil dari manfaat yang didapatkan anak dari aktifitas bermain. Karena melalui bermain, anak dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangannya. Untuk anak, bermain adalah belajar. Bila orang dewasa membangun pengetahuannya lewat membaca, maka anak membangun pengetahuannya lewat bermain. Melalui berbagai macam aktifitas bermain, anak melatih kemampuan fisik dan motoriknya, mematangkan emosi dan mengasah keterampilan sosialnya, memperlancar komunikasinya, juga mengembangkan kognisinya.
Bermain adalah kebutuhan anak dan bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, dengan siapa saja, menggunakan apa saja. Anak bahkan bisa menikmati kesenangan bermain hanya dengan menggunakan imajinasinya. Kebahagiaan dan manfaat bermain untuk anak hanya didapat apabila anak senang melakukannya, dan agar anak senang melakukannya, inisiatif untuk melakukan aktifitas bermain itu harus datang dari anak. Suatu aktifitas hanya dapat dikatakan aktifitas bermain apabila anaklah yang memutuskan apa yang akan dia mainkan dan bagaimana memainkannya.
Misalnya, permainan boneka barbie yang mahal dengan peralatan yang lengkap dan indah tidak akan memberi manfaat apa-apa jika anak melakukannya dengan paksaan orangtua. Akan tetapi seorang anak yang mengamati iring-iringan semut akan mendapatkan berbagai manfaat bermain apabila kegiatan yang ia lakukan tersebut memunculkan berbagai emosi positif, senang, takjub atau kagum. aspek kognitifnya pun akan berkembang apabila anak terangsang untuk mendapatkan pengetahuan mengenai semut yang bisa meluas pada pengetahuan mengenai hal-hal lainnya.
Itulah sebanya aktifitas bermain dikatakan sebagai aktifitas inklusif dan inheren, karena muncul dari motivasi di dalam diri dan tidak perlu diajarkan.
Lalu apa fungsi orang dewasa, khususnya orangtua dan guru dalam aktifitas bermain anak? Dalam aktifitas bermain anak, orangtua atupun guru berfungsi untuk mendampingi dan mendukung kegiatan bermain yang dilakukan anak, juga merangsang anak untuk mengoptimalkan fungsi permainan terhadap aspek-aspek perkembangannya. Karena memang permainan memberi efek besar bagi arah perkembangan anak, maka permainan yang mengarah pada perkembangan yang negatif, misalnya sikap agresif dapat dikontrol.
Orangtua atau guru sebaiknya ikut terlibat bermain bersama anak. yang perlu diingat adalah, bahwa anaklah pemilik permainan itu. Jangan “gatal” untuk mendominasi permainan, sehingga anak kehilangan kunci bermain, yaitu kesenangannya. Misalnya saja, saat anak bermain puzzle dan sering salah meletakan potongan yang sesuai, orangtua langsung mengambil alih puzzle, meletakan potongan yang sesuai. Atau yang sering terjadi adalah orangtua memberi komentar bahkan kritik pada aktifitas anak, misalnya dengan ungkapan “Eh, jangan gitu dong” atau “Masa begitu, jelek ah!”, dan lain-lain.
Orangtua harus ingat, bahwa respons yang diberikan akan menentukan bagaimana penghayatan anak terhadap diri dan lingkungannya. Jika orangtua terlibat aktif terlibat dalam aktifitas bermain tanpa mendominasi, bahkan memberi dorongan saat anak merasa tidak bisa, memberi pujian pada setiap hasil karya anak, hal tersebut akan menumbuhkan rasa kompetensi pada diri anak. Wallahu ‘Alam
sumber : Auladi




